Dengan Kembali Berfungsinya eHDW Versi
Web, Nabire Kembali Berpacu Dalam Pengimputan Data Stunting
Nabire pada Jumat 13 Juni 2026,
Dalam kurun
dua tahun lebih Papua Raya dalam pelaporan data stunting berbasis eHDW Versi
Web rata rata (0)%, hal ini dikarenakan tidak dapat diakses system eHDW karena
mengalami kendala. Hal ini membuat hasil kerja KPM, tidak dapat diakses/diinput.
Disamping itu ada beberapa factor juga yang menjadi sedikit kendala dalam
pengimputan dan pelaporan.
Berikut
adalah rincian utama penyebab lambatnya proses penginputan data di Papua:
Jaringan
Internet dan Listrik Terbatas:
Banyak
wilayah dan desa (kampung) di pedalaman atau pegunungan Papua belum terjangkau
sinyal telekomunikasi (blank spot) dan aliran listrik yang memadai. Padahal,
aplikasi eHDW membutuhkan koneksi internet untuk mengirimkan data secara
real-time.
Kondisi
Geografis yang Sulit:
Wilayah
yang luas dengan medan berbukit atau hutan yang berat membuat akses
transportasi dari desa ke fasilitas kesehatan sangat sulit. Kader sering kali
harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan sinyal agar dapat melakukan
sinkronisasi data.
Keterbatasan
SDM dan Literasi Digital:
Pergantian
kader di tingkat desa/kampung dan kurangnya pelatihan teknis membuat pemahaman
para kader dalam mengoperasikan aplikasi eHDW masih perlu ditingkatkan.
Masalah
Sinkronisasi Sistem:
Terdapat
kendala teknis dalam proses sinkronisasi data dari ponsel kader (KPM) ke dasbor
admin desa/kecamatan, yang menyebabkan data ganda atau tidak tercatat.
Berikut
beberapa tahap yang sudah kami lakukan dalam proses pendampingan agar data
stunting dapat terabded :
Dibuatnya
akun secara berjenjang baik dari tingkat provinsi, kabupaten, distrik, sampai
pada tingkat kampung. Sampai dengan media informasi ini diturunkan kabupaten
nabire telah membuat akun untuk 15 distrik - yang akan di Kelola oleh
Pendamping Desa (PD), dan di tingkat kampung sebanyak 72 yang akan dikelola
oleh kampung dan PLD.
Akun sebagai pintu masuk (user dan password) dalam akses eHDW berbasis web.
langkah berikut adalah Pengelolaan data stunting oleh Kader Pembangunan Manusia (KPM) dan Pendamping Desa dilakukan melalui lima tahapan utama: pendataan sasaran, pemantauan berkala, analisis dan pelaporan, rembuk stunting, serta integrasi program. Keduanya berkolaborasi untuk memastikan intervensi layanan gizi tepat sasaran.
Pendataan
Sasaran (Pemetaan Sosial)
Identifikasi
1.000 HPK: KPM mendata sasaran prioritas yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan
anak usia 0-23 bulan (1.000 Hari Pertama Kehidupan) di tingkat RT/RW.
Pencatatan
Kondisi: Mencatat kelengkapan pemeriksaan kehamilan (ANC), pemberian Tablet
Tambah Darah (TTD), kepemilikan jaminan kesehatan, dan status imunisasi dasar.
Pemantauan
Pertumbuhan dan Perkembangan
Pengukuran
Rutin: KPM memfasilitasi dan mendampingi pengukuran berkala tinggi/panjang
badan dan berat badan balita setiap bulan di Posyandu menggunakan alat
antropometri standar. Pencatatan Buku KIA: Memastikan hasil pengukuran dicatat
akurat di dalam Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) serta sistem pencatatan
kesehatan setempat.
Analisis
dan Pelaporan Data
Rekapitulasi
Data: KPM merekapitulasi data bulanan terkait jumlah balita yang diukur, balita
terindikasi stunting/gizi buruk, dan keluarga yang belum men Pelaporan
Berjenjang: KPM menyusun laporan dan menyerahkannya kepada Pemerintah Desa,
Puskesmas, serta Pendamping Desa untuk ditindaklanjuti.
Rembuk
Stunting di Desa
Musyawarah
Warga: KPM bersama Pendamping Desa memfasilitasi forum Rembuk Stunting Desa
dengan menyajikan data akurat terkait kondisi sasaran dan layanan dasar di
desa. Penyusunan Rencana Kerja: Merumuskan usulan kegiatan pencegahan spesifik
dan sensitif yang dituangkan dalam Rencana Kegiatan Pemerintah Desa (RKPDes).
Integrasi
dan Pemanfaatan Dana Desa
Penganggaran: Pendamping Desa membantu pemerintah desa menyusun program intervensi stunting (seperti PMT lokal, penyediaan air bersih, dan sanitasi) agar terdanai dengan APBDes. Optimalisasi Rumah Desa Sehat (RDS): KPM dan Pendamping Desa mengelola RDS sebagai forum diskusi dan pusat informasi layanan sosial dasar bagi masyarakat.
Berikut Sekilas Tentang Stunting Apa Itu Stunting dan Mengapa Harus Dicegah Sejak Dini?
Menurut WHO, stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang ditandai tinggi badan anak lebih pendek dari standar usianya.
Kondisi
ini dapat dimulai sejak dalam kandungan. Berbeda dengan gagal tumbuh yang bisa
diperbaiki, stunting bersifat permanen jika tidak ditangani sebelum usia 2 tahun.
Stunting
berdampak jangka panjang, mulai dari hambatan fisik, gangguan fungsi otak
hingga
masalah perilaku anak. Kondisi ini juga meningkatkan risiko penyakit kronis di
masa depan.
Cara
Mencegah Stunting yang Harus Dilakukan Orang Tua
Cara
mencegah stunting pada anak perlu dilakukan selama periode emas 1000 HPK.
Pencegahan dapat membantu anak tumbuh tinggi dan cerdas, sehingga bisa
menjalani masa depannya secara optimal.
Jaga
Nutrisi Bunda Sejak Kehamilan
Asupan
gizi yang Bunda dapat selama hamil dan menyusui juga penting untuk mencegah
stunting.
Pastikan
Bunda terus mengonsumsi makanan kaya protein, zat besi, dan asam folat selama
kehamilan dan masa menyusui untuk membantu meningkatkan kualitas ASI dan
mendukung pertumbuhan bayi yang sehat.
Berikan
ASI Eksklusif Minimal 6 Bulan
Cegah
Anemia pada Ibu dan Bayi
Anemia
yang terjadi pada Bunda selama kehamilan dan menyusui, atau anemia yang terjadi
pada bayi dapat meningkatkan risiko stunting. Maka itu, selalu cek kadar Hb
secara rutin dan pastikan asupan zat besi cukup baik dari makanan maupun
suplemen untuk Bunda dan si Kecil. Cek JUGA apakah kebutuhan zat besi (iron) anak
sudah cukup atau belum di Kalkulator Zat Besi,
Mulai
MPASI dengan Makanan Kaya Protein dan Zat Besi
Cara
pencegahan stunting berikutnya adalah memberikan MPASI yang mengandung protein
hewani seperti daging, ayam, ikan, dan telur di usia 6 bulan.
Protein harian yang dibutuhkan anak usia 6–12 bulan adalah 1,2 gram per kg berat badan. Untuk anak usia 1–3 tahun, kebutuhan proteinnya sekitar 1,05 gram per kg berat badan.
Selain
protein, zat besi juga penting agar bayi tidak mengalami anemia. Anemia bisa
mengganggu perkembangan otak dan meningkatkan risiko stunting pada anak.
Lakukan
Imunisasi Dasar Lengkap
Imunisasi
dasar melindungi bayi dari infeksi. Infeksi berulang juga dapat mengganggu
penyerapan gizi dan memicu stunting. Jadwal imunisasi dasar diberikan sejak
lahir hingga usia 12 bulan, seperti vaksin hepatitis B, BCG, polio, DPT, dan
campak.
Stimulasi
Dini
Stimulasi
fisik, verbal, dan emosional juga mendukung perkembangan otak dan tumbuh
kembang optimal. Ajak anak bermain, berbicara, bernyanyi, dan membaca buku
sejak dini.
Rutin
Pantau Tumbuh Kembang Anak
Pemantauan
rutin penting untuk mendeteksi sejak dini jika ada keterlambatan pertumbuhan
pada anak.
Bawa anak ke posyandu atau puskesmas sesuai
jadwal untuk cek tumbuh kembangnya. Jika grafik pertumbuhan menunjukkan
penurunan atau stagnasi, segera konsultasikan untuk pemeriksaan lanjutan.
Jaga
Kebersihan dan Sanitasi Lingkungan
Cara
mencegah stunting juga mencakup menjaga kebersihan makanan, peralatan makan,
dan area bermain si Kecil. Lingkungan yang bersih membantu mencegah diare dan
infeksi saluran pencernaan, dua penyebab umum gangguan gizi pada anak. Pastikan
anak mendapat akses air bersih dan dibiasakan mencuci tangan dengan sabun.
Dengan
langkah pencegahan stunting yang tepat sejak awal kehidupan anak, risiko
stunting bisa ditekan secara signifikan. Mulailah dari rumah dengan pemberian
ASI, makanan bergizi, lingkungan sehat, dan cinta kasih orang tua.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar